Sabtu, 27 Desember 2008

Haram Hukumnya Berdiam Diri dalam Sistem yang Kufur

Indonesia hanyalah salah satu dari sekian banyak negeri muslim yang tersebar di seluruh dunia. Negeri yang mayoritas penduduknya adalah muslim, dan kita adalah salah satunya. Menyambung tulisan saya sebelumnya bahwa seorang mukallaf memiliki kewajiban untuk mengetahui ketetapan Allah atas dirinya terkait setiap hal yang akan dia perbuat, maka saya ingin mengetengahkan pertanyaan "bagaimana hukum Islam memandang kaum muslimin yang tinggal di negeri muslim tetapi negeri tersebut tidak menerapkan hukum islam?".

Mungkin kita bisa mengajukan alasan bahwa tempat kita dilahirkan adalah bagian dari ketetapan Allah(qadha)yang wajib kita terima dengan ikhlas tanpa perlu bertanya. Akan tetapi, ketika negeri ini, tanah air ini, bumi pertiwi ini, tidak menerapkan hukum Allah, apakah ini termasuk bagian dari ketetapan Allah?. Tentu saja tidak.

Untuk mengetahui hukum ini mari kita lihat ketetapan Allah terkait kewajiban menerapkan hukum islam di tengah-tengah kehidupan.

Sesungguhnya kewajiban kaum muslim untuk terikat dengan hukum Islam bukanlah perkara yang patut diperdebatkan, karena dalil-dalil untuk perkara ini sudah sangat jelas dinyatakan oleh Allah di dalam al-qur'an. Allah berfirman dalam al-qur'an surat al-maidah ayat 50 "Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Sistem hukum siapakah yang lebih baik daripada sistem hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?". Dari ayat ini kita ketahui dengan pasti bahwa kaum muslimin wajib untuk berhukum dengan hukum Islam.

Pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana caranya? Di sinilah pentingnya melakukan perubahan, bergerak untuk berubah. Allah berfirman dalam al-qur'an surat ar-ra'du ayat 11 "Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan mereka sendiri". Jika kita benar-benar menginginkan negeri ini menerapkan hukum Allah, maka kita harus melakukan perubahan tersebut. Adanya penghalang dalam perjuangan adalah perkara yang wajar, tinggal bagaimana kita menghadapinya. Saya kutipkan hadits dari Rasululah saw "Penghulu para syuhada adalah Hamzah dan orang-orang yang mengoreksi penguasa yang dholim lalu mereka dibunuh karenanya". Lihat juga firman Allah dalam surat Muhammad ayat 7 "Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong agama Allah, maka Allah akan menolong kalian".

Subhanallah..Allahuakbar..Setelah meyakini jaminan dari Allah tersebut di atas, tentu tidak pantas lagi bagi kita untuk ragu dalam menapaki jalan perjuangan ini.
Adapun sistem hukum yang seharusnya ditawarkan oleh kaum muslimin adalah sistem khilafah, bukan sosialisme, kapitalisme, ataupun neo-neo yang lain. Karena keberadaan khilafah merupakan kewajiban bagi kaum muslimin. Berikut dalil-dalil yang menjelaskan perkara ini:

1.dalil al-qur'an

Allah berfirman dalam al-qur'an surat an-Nisa ayat 58-59 "Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyampaikan berbagai amanat kepada orang yang berhak menerimanya dan memerintahkan kalian agar membuat ketetapan hukum dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kalian. Sesungguhnya Allah maha mendengar dan maha melihat. Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasul-Nya serta ulil amri di antara kalian. Jika kalian berbeda pendapat dalam suatu perkara, maka kembalikanlah perkara tersebut kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kalian memang beriman kepada Allah dan hari akhir. Sikap demikian adalah lebih utama dan lebih baik akibatnya."

Adapun yang dimaksud amanat dalam ayat di atas adalah amanat secara umum, termasuk di dalamnya masalah fa'i dan penunaian hak-hak kaum muslim (ibnu jarir ath-Thabari). Adapun yang dimaksud dengan ulil amri pada ayat berikutnya adalah para pemimpin dan para penguasa (ibnu jarir ath-Thabari).

2.Dalil as-sunnah

Adapun hadist yang meriwayatkan kewajiban khilafah atas kaum muslimin juga sangat banyak. Imam Muslim menuturkan riwayat dari Nafi' ra. "Umar pernah berkata kepada saya : Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda "siapa saja yang melepaskan tangannya dari ketaatan kepada Allah, niscaya dia akan menjumpai Allah pada hari kiamat nanti tanpa mempunyai hujjah (alasan). Siapa saja yang mati, sementara tidak ada bai'at di lehernya, berarti dia telah mati jahiliyah."(HR Muslim)

3.Dalil ijma shahabat

Setelah Rasulullah saw wafat, para shahabat berembuk untuk menentukan pengganti kepemimpinan Beliau sehingga mereka menunda pengurusan jenazah Rasullah, sementara pengurusan jenazah adalah perkara yang wajib. Atas dasar ini, keharusan adanya pemimpin di tengah-tengah kaum muslimin lebih mendesak daripada pengurusan jenazah.

4.kaidah syariat

Ada sebuah kaidah syariat yang berbunyi "suatu kewajiban tidak terselenggara dengan sempurna kecuali dengan adanya sesuatu, maka sesuatu itu wajib adanya". Penerapan hukum islam tidak akan terselenggara dengan sempurna kecuali dengan adanya sistem khilafah, maka sistem khilafah itu wajib adanya.

Demikianlah, begitu gamblang kewajiban untuk menegakkan sistem khilafah demi mewujudkan kembali kehidupan islam. Jika ini merupakan sebuah kewajiban, tentu meninggalkannya merupakan sebuah keharaman. Jika mengubah sistem kufur yang saat ini menguasai negeri kita dan negeri-negeri lain di dunia merupakan hal yang wajib, tentu berdiam diri saja melihat kenyataan ini adalah perkara yang haram. Wallahu'alam.

Selasa, 16 Desember 2008

Istriku, kekasihku..

“Jika ada suatu mahluk yang boleh disembah oleh manusia, tentu suami adalah tempat yang ‘seharusnya’ disembah oleh istrinya..” begitu kira-kira kanjeng Nabi Muhammad SAW pernah berkata ditahun 600-an. Kalau dilihat selintas, kalimat tersebut terkesan memberikan tempat yang istimewa bahkan teramat istimewa kepada seorang suami di keluarganya.. kalimat yang mendiskreditkan posisi istri (wanita) pada keluarga.. maka wajar jika para wanita pada jaman sekarang banyak yang tidak setuju bahkan menentangnya atau hal-hal yang terkait dengannya. Bagaimana tidak, istri (wanita) seolah-olah hanya dijadikan sebagai pelengkap bahkan mungkin seperti layaknya budak. Memposisikan saumi sebagai ‘sesembahan’ berarti menjadikannya seolah-olah sesuatu sebagaimana tuhan yang memang harus disembah.. seolah-olah tidak ada kamus salah dari apa yang dilakukan oleh suami yang harus dipatuhi secara total oleh sang istri.
Namun, jika kita coba mencermati makna kalimat tersebut, mungkin akan menjadi lain cara pandang diatas. Untuk melihat hal tersebut saya akan coba mengurainya secara perlahan dari apa yang telah saya lalui bersama istri saya tercinta..
Semenjak kami menikah kesepakatan untuk menjadikan keluarga sebagai sarana menggapai RidlaNya sudah ditetapkan dari awal. Konsekuensinya, segala sesuatu yang terjadi pada keluarga, maka prioritas utama adalah bagaimana ‘menggapai Ridla-Nya’ begitu tekad kami. Tapi, apakah hal tersebut berjalan mulus, tentu tidak.. bagaimana mungkin, kami menikah dengan sebelumnya tidak pernah menganal model pacaran sebagaimana layaknya trend sekarang. Artinya, kami belum pernah ‘bersentuhan’ langsung satu sama lain. Namun anehnya, proses saling mengenal dan ‘bersentuhan’ langsung setelah pernikahan menjadi keasikan dan keunikan tersendiri, maka wajar jika Prof. Quraish Shibah berkata bahwa pernikahan akan menjadikanya sebagai sesuatu yang sangat istimewa, seorang wanita akan rela berada dekat dan membuka semua rahasianya dengan seseorang yang sebelumnya tidak dikenalnya, ia rela menggantungkan keyakinannya pada suaminya melebihi keyakinannya pada perlindungan keluarganya. Subhanallah..
Begitu pula apa yang telah dilakukan oleh istriku. Sebelum kami menikah istriku dikenal sebagai orang yang ramah, supel namum belum pernah dekat dengan lelaki selain keluarganya. Masih segar dalam ingatan, suatu waktu ketika saya selesai melamarnya adik lelakinya pernah mengenalkan kakaknya melaui perakapan kami di telepon.. ‘kakak adalah orang yang sangat baik, dia sangat pandai menyembunyikan perasaan sesungguhnya kepada orang lain, dalam kondisi apapun’.. saat itu saya hanya bisa tersenyum namun juga heran, sebegitukah dia calon istriku, meski tentu dalam hati saya mengamini apa yang diutarakan calon adik iparku.
Hari-hari berlalu semenjak kami menikah, selayaknya pengantin baru maka semua serba istimewa.. namun bagi saya tidak ada yang lebih istimewa selain sekarang adanya seseorang yang menjadi pasangan hidup saya.. saya perlahan mulai mengenal siapa istri saya dan tentunya sekaligus ingin membuktikan apa yang pernah dikatakan adiknya. Subhanallah… istriku memang istimewa, dia adalah wanita yang mungkin jarang ditemui pada masa sekarang. Istriku benar-benar seperti penampakan imajinasi saya ketika dulu saya mendengarkan ceramah ustadz-ustadz tentang bagaimana wanita shalikhah itu. Istriku mampu mempraktikkan perannya sebagai istri yang sempurna. Semua begitu indah baginya, hampir tidak pernah saya melihat istriku mengeluh tentang kondisi kami.
Ah, istriku.. engkau begitu sempurna, dan saya merasa malu padanya karena ‘mungkin’ belum bisa menjadi suami yang sempurna baginya. Istriku mampu membuat saya ‘minder’ ketika berbuat salah.. padalah entah sudah tidak terhitung kesalahan saya padanya.. bagaimana mudahnya saya emosi adalah langganan kesalahan saya. Dia mampu menjadi pengingat bagi saya ketika akan berbuat salah. Istriku juga mampu membuat hati ini selalu berdebar jika telah berbuat salah..
Aha.. mungkin ini maksud apa yang telah diutarakan Nabi diawal tulisan ini.. semakin dalam istri mencintai dan mematuhi suami, bukan membuat suami semakin ingin berbuat seenaknya sendiri.. semakin sempurna perbuatannya sebagai ‘hamba’ kepada ‘sembahannya’ maka semakin membekas dalam pula ‘sesembahan’ mencintai ‘hambanya’. Ah, istriku kamu begitu istimewa.. bagiku kalimat yang lebih tepat adalah: “Jika ada suatu mahluk yang boleh disembah olehku, tentu saat ini istriku adalah tempat yang akan disembah olehku..”
Terima kasih istriku, engkau benar-benar menjadi kekasih sejatiku..

Goettingen, 26 Oktober 2008

Kamis, 11 Desember 2008

Budaya Latah yang Tak Bertanggung Jawab

Seorang muslim ketika sampai usia balighnya, maka telah jatuh hukum atas dirinya. Tak sepantasnya lagi ia menjadi pribadi-pribadi yang 'sekedar mengekor' saja. Entah itu pada orang tua, pada teman, pada kakak, pada guru, apa tah lagi pada orang-orang jahil yang tak berilmu. Kondisi dewasa ini, di mana kedewasaan dan kematangan seorang manusia sudah tak sejalan lagi dengan usia balighnya. Pada hakikatnya hal ini dikarenakan ada yang salah dalam metode pendidikannya. Baik oleh keluarga, masyarakat, atau pun negara melalui institusi pendidikan formal. Seorang anak muslim pada masa Rasulullah dan para shahabat sudah memiliki kapasitas ilmu yang luar biasa. Sementara saat ini, usia 15 tahun saja remaja kita bahkan belum bisa mengambil keputusan terkait jalan hidupnya.
Lihat saja sebentar lagi menjelang tahun baru. Remaja kita yang nota bene muslim dan sudah baligh, bahkan ada yang sudah baya ataupun hampir renta, semua berbondong-bondong ikut merayakan 'tahun baru', yang mereka tidak tahu bagaimana hukumnya. Sekedar 'latah' saja. Ada yang lebih menyedihkan, mereka tahu tetapi menutup mata, telinga dan hati mereka rapat-rapat. Sekedar tak ingin di anggap ketinggalan zaman. Naudzubillah.
Adapun terkait perayaan tahun baru secara hura-hura, sesungguhnya tak ada ikhtilaf di sana. Status keharamannya sudah jelas. Di lihat dari sejarah, maka tidak dapat dipungkiri bahwa perayaan tersebut sangat erat kaitannya dengan ibadah dan budaya orang kafir. Sementara Rasulullah bersabda "Siapa yang menyerupai pekerjaan suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka"(HR. Abu Dawud, Ahmad, dan ath-Thabrani). Di lihat dari format acara perayaan tersebut pun sudah sangat jelas keharamannya. Di sana hanya ada hura-hura, ikhtilat, membuka aurat, dan keharaman lainnya. Sementara ada kaidah yang mengatakan "sarana yang mengantarkan pada keharaman, maka hukumnya haram".
Memang masih ada kalangan ulama yang berpendapat membolehkan perayaan tahun baru pada kondisi tidak ada hal-hal yang mengharamkan di sana. Misal di isi dengan aktifitas shalat malam bersama, renungan bersama, dan aktifitas halal lainnya. Akan tetapi untuk hal ini juga ada ulama yang berpandangan bahwa jika renungan dan atau yang lain tersebut dilakukan semata karena agenda tahun baru tersebut, maka hal ini termasuk bid'ah.
Sebagai seorang muslim yang mukallaf, sepantasnyalah kita mampu mengambil keputusan untuk segera meninggalkan keharaman. Bagaimana dengan perkara yang masih ada ikhtilafnya? Adalah bijak jika kita pun meninggalkannyanya karena Rasul juga menganjurkan pada kita agar meninggalkan perkara yang subhat. Demikianlah jika kita termasuk orang-orang yang hati-hati. Semoga bermanfaat. Wallahu'alam.

Minggu, 07 Desember 2008

Mereka menyerahkan dirinya …

Malam itu hening, di sebuah rumah di daerah Palestina, seorang lelaki terjaga dari tidurnya. Wajahnya mengkilat, terlihat keringat melekat membasahi kening dan tubuhnya. Dadanya naik turun bergerak memburu deru nasaf, seolah paru-parunya tidak cukup ruang menampung udara.. wajahnya sedikit pucat. Terlihat jelas ia gelisah.. ini bukan mimpi pertamanya. Mimpi yang membuatnya selalu terjaga dari tidurnya.. Mimpi yang semakin membuatnya gelisah. Bagaimana tidak, tidak sekali ia bermimpi hal yang sama. Malam masih tersisa, Ia bergegas bersimpuh mengadu pada Tuhan Yang Maha Esa memohon petunjukNya…
*****
Di belahan bumi lainnya berjarak 1500 km dari tempat itu terlihat pemuda. Ia tinggal bersama ibu yang sangat menyayangi dan disayanginya di daerah yang terpencil, jauh dari penduduk. Pagi itu pemuda ini seperti biasa membantu aktifitas ibundanya. Mereka sudah lama tinggal hanya berdua. Menghabiskan waktu bersama dengan bekal keimanan pada Tuhan yang menancap kuat di dada-dada mereka. Keimanan yang membuat mereka bisa bertahan didaerah yang tandus, kering dan jauh dari manusia lainnya. Mereka yakin suatu saat suami dan ayah mereka akan datang berkumpul dengan mereka.
*****
Hari masih pagi, namun lelaki itu sudah sibuk menyiapkan dirinya. Ia sedang bersiap untuk melakukan perjalan jauh. Masih ada sisa gelisah di sudut hatinya. Tapi, kekuatan Iman telah menuntunnya untuk segera bergegas melakukan tugasnya. Ya, hari itu ia akan menempuh perjalanan yg jauh, menemui istri dan putra tunggalnya yang sudah cukup lama ditinggalkannya, melaksanakan tugasnya. Namun kenapa ia gelisah, bukankah seharusnya ia bahagia karena akan bertemu dengan keluarganya.. ternyata mimpinya semalam masih sangat membekas.. mimpi yang baginya merupakan titah yang harus dijalankan… mimpi di luar logika manusia, yang membenturkan perasaannya sebagai seorang ayah dan seorang ‘utusan’..
****
Terik matahari menyengat. Sesekali debu dan pasir menderu diterjang angin. Hanya padang yang tandus sepanjang mata memandang. Namun itu tidak menyurutkan langkah lelaki itu. Sesekali ia berhenti untuk menyeka peluh dan memastikan arah jalan.
Cukup lama ia tertegun ketika dilihatnya sebuah rumah sederhana. Sejurus kemudian ia percepat langkahnya menuju rumah itu. Persis seperti dugaannya, di dalam rumah itu hanya ada dua penghuni. Segera ia temui keduanya yang tak lain adalah istri dan anaknya. Ia hanya sesekali datang kepada mereka. Kali ini ia datang tidak sekedar melepas rindu.. Setiap berkunjung ia melihat anak satu-satunya semakin tumbuh menjadi pemuda yang gagah. Di hatinya ia berguman, lelaki inilah kelak yang akan meneruskan perjuangannku.. tapi… buru-buru ia tepis keraguannya.
Hari sudah menjelang sore. Selepas mereka saling bercengkrama melepas rindu, lelaki itu memanggil putranya. Sengaja ia mengajak putranya untuk berdua saja menjauh dari istrinya. Ia ingin membicarakan sesuatu yang selama ini mengganjal dihatinya yg merupakan tugas baginya, hanya berdua dengan putranya. Sejenak ia tertegun memantapkan hati dan mencoba mentata apa yang akan dikatakannya. “Ismail anakku, aku diperintahkan Allah untuk menyembelihmu” mantap kalimat itu meluncur.. sejenak hening.. bagaimana tidak, sebagai seorang ayah, Ibrahim sudah sangat lama mengidamkan dikaruniai anak. Sudah puluhan tahun ia bedoa. Kini setelah ia punya seorang anak lelaki yg gagah, yang diharapkan menjadi penerusnya oleh Allah diuji untuk dikorbankan dan disembelih oleh dirinya.
Pemuda yg diajak bicara tidak berekspresi. Wajahnya tetap tenang tidak menampakkan kekagetan dan kekhawatiran. Tanpa ragu ia berkata “Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepadamu. Engkau akan menemuiku insya-Allah sebagai seorang yang sabar dan patuh kepada perintah”.. Jawaban yg luar biasa keluar dari mulut pemuda itu….
****
Ribuan tahun yang lalu peristiwa itu nyata terjadi. Allah telah menuliskan dalam tinta emas sejarah perjalanan hambaNya yang beriman. Perjalanan Iman hamba Allah yang sarat dengan ujian. Tidak mampu kita bayangkan bagaimana pengorbanan Ibrahim AS dan keluarganya untuk Allah SWT semata. Tidak hanya harta, tenaga yg mereka korbankan, bahkan nyawa dari anak yg sangat disayangi pun rela nyaris dikorbankan. Tengok pula Ismail AS, sebagai seorang anak yg patuh taat pada Allah dan perintah ayahnya, hanya semata-mata karena keimanan kepada Allah yg membuatnya mantap bersedia mengorbankan dirinya. Sungguh peristiwa yg luar biasa.. mereka mengorbankan dirinya pada Allah semata.
Lalu tengoklah diri kita,.. rasanya sangat jauh dari apa yg telah dilakukan keluarga Ibrahim AS. Mungkin sudah berapa Idhul Adha kita lalui tanpa sesuatu yang membekas pada keimanan kita.. jangankan nyawa dan sesuatu yg paling kita cintai pun belum tentu akan rela kita kurbankan pada Allah semata.. dan tengoklah diri kita di Idhul Adha kemaren, apakah kita sudah berusaha mencoba mendekat kepadaNya dengan melaksanakan ibadah Qurban karena semata kita beriman kepada Allah SWT.
Ah.. rasanya diri ini sudah sangat jauh bergelimah dosa.. lalu pantaskan kita membanggakan diri dihadapanNya… sungguh, mungkin ujian hidup kita masih terlalu ringan jika dibandingkan ujian keluarga Ibrahim.. tapi sudah beratus kali kita terjebak dengan ujian itu…
Duhai Allah pencipta langit, bumi dan isinya… ampunilah kami, ampunilah kelemahan kami, kuatkanlah kami untuk senantiasa mendekat bertaqarrub kepadaMu.. jadikanlah kami orang-orang yg beriman.. hunjamkanlah dalam dada kami keimanan sebagaimana orang-orang yg shalih.
Wahai dzat yg menentukan setiap denyut nadi kami… janganlah Engkau sesatkan hati kami sesudah mendapat petunjuk, berilah kami karunia. Engkaulah yang maha pemurah. Amin.

Senin, 10 November 2008

Indomie Rp. 7.150,-!!

Setelah dua hari saya berada di Gottingen, pengin juga pergi belanja. Mungkin dalam bayangan anda saya akan belanja barang-barang ‘unik’ yg tidak ada di Indonesia. Bukan, saya memang harus belanja tapi belanja kebutuhan harian terutama makanan. Sebelumnya saya sudah mendapatkan warisan dari mahasiswa senior asal Indonesia berupa panci goreng dan perlengkapannya, satu piring, satu mangkok, satu gelas dan satu sendok. Ohya, kamar yang saya tempati adalah semacam asrama mahasiswa, tapi jangan bayangkan dengan asrama perguruan tinggi di Indonesia. Di sini kamar asrama layaknya seperti penginapan. Di dalamnya selain tempat tidur, meja belajar dengan saluran internet juga terdapat dapur plus kompor otomatik, pemanas ruangan dan kamar mandi yang selalu ada air panasnya. Jadi tidak perlu antri jika ingin sekedar masak air atau mandi. Tapi wajar juga jika disesuaikan dengan harga sewanya yang mencapai 180 € / bulan atau sekitar Rp. 2,4 juta-an/bulan he he. Ini bukan untuk mewah-mewahan, karena memang disini tidak ada kos-kosan semacam di Bogor yang harga sewanya bisa Rp. 400 rb/bulan bahkan kurang. Di sini tingkat kehidupan yang wajar sangat dijaga pemerintah. Bahkan tidak mudah untuk menyewakan apartemen jika tidak memenuhi kelayakan hidup manusia. Bagaimana tidak untuk bisa tinggal disini kita harus sudah menyewa tempat tinggal dengan ukuran 12 m2/orangnya. Ukuran layak untuk hidup katanya. Jadi jika anda ingin membawa anggota keluarga maka kalikan saja dengan angka itu untuk luas minimal kamar yang anda sewa. Tentu semakin luas kamar maka semakin tinggi harga sewanya.

Nah, kembali ke cerita awal. Saya pun pergi ke sebuah minimarket milik orang arab. Dari kasirnya dan nama minimarket nya saja sudah menggambarkan bahwa toko itu milik orang arab atau minimal dari daerah Arab sana. Al-Iman nama tokonya. Banyak temenku mereferensikan kalau mau cari makanan yang halal Al-Iman tempat yang tepat. Kasir toko sepertinya sudah familiar dengan pembeli mahasiswa asing terutama dari negeri-negeri muslim atau asia lainnya. Begitu saya masuk dia sudah menyambut dengan senyum dan say hallo.. aha, ramah benar penjaga toko disini. Saya mulai merogoh kantong baju untuk mencari selehai kertas yang sengaja saya corat-coret daftar belanja yang harus saya beli. Saya pun mulai mencari. Setelah ketemu burger siap masak, susu pasteurisasi, jus, beras juga minyak goreng, mata saya tertumbuk pada bungkusan yang sudah lama saya kenal.. aha, disini ada Indomie..??!! pikir saya. Setelah berpindah satu bungkusan ke tangan saya, saya coba cermati betul bungkusan itu, apakah ini mie yang biasa saya makan di Indonesai atau hanya serupa saja.. wah, ternyata benar.. mie ini diimport dari Indonesia. Jelas sekali terlihat dimana mie tersebut diproduksi, tulisannya dan lainnya persis sama.. saya pun langsung ambil beberapa bungkus.. ah, akhirnya saya temukan makanan kesukaan saya di sana, pikir saya dalam hati.. tapi eit.. belum lima langkah saya menjauh dari rak mie itu, mata saya tertumbuk pada label harga yang nangkring dibungkusan mie tersebut.. 0,50 € .. buru-buru saya konversikan angka tersebut dalam rupiah.. deg! Rp. 7.150-an ! saya masih membesarkan hari utk mencoba menyelidiki lebih detail, barangkali harga segitu untuk lima bungkus atau berapa., ah, ternyata tidak, disetiap bungkusan mie-mie itu terdapat angka yang saya.. alamak! Mahal nian mie ini.. langung saya taruh kembali bungkusan-bungkusan mie tersebut dan saya hanya membawa dua bungkus saja.. itupun karena ‘terpaksa’ mencoba mengobati kangen makan mie rebus dan memang tidak ada makanan lain yang saya kenal.

Subhanallah, jeli juga pemilik toko tersebut ya.. apa dia sudah tahu kalau kebiasaan orang Indonesia apalagi mahasiswa makanan favoritnya mie.. ah, tapi jika harga nya segitu mana ada mahasiswa beli, pikir saya. Dulu waktu mahasiswa di Bogor, makan mie itu bukan hanya sekedar favorit, tapi lebih kepada bahwa mie adalah makanan yang enak dan lebih penting murah meriah.. cukup diseduh, bisa utk ganjel pagi hari berangkat kuliah.. lha ini, harganya saja lebih mahal dari harga dagingnya disini. Itu yang aneh, karena harga sekilo daging, telur atau seliter susu bisa setengahnya dari harga barang yang sama di Indonesia.. artinya kalau mau makan mie perlu uang lebih gedhe.. mending beli sosis atau burger saja, sudah enak lebih bergizi lagi.. tapi kalau untuk sekedar kangen-kangenan dengan mie .. satu dua bungkus boleh lah.. hi hi.. (dasar anak kos!)

Homesick !

Sudah hari kelima aku berada di Jerman, tapi semua yang ada di sini tidak membuatku ingin sekali terus berada disini. Justru sebaliknya, tidak terhitung bayangan dan kenangan bersama keluarga di Indonesia semakin sering melintas. Apalagi disini, kondisi alam yang sangat berbeda membuat semakin berat saja. Suhu sudah mencapai 0 derajat, dan waktu siang semakin sebentar. Padahal ini masih musim gugur, bagaimana kalau musim dingin nanti.. semakin tidak betah saja rasanya membayangkan hal itu. Apalagi membayangkan jika musim dingin tiba nanti suhu mencapai minus 10 dan aku ada kuliah yang memang harus dijalani, bahkan kuliahku ada yang di luar kota. Aku harus naek kereta api 20 menit dan dilanjutkan jalan kaki. Kemaren saja waktu pulang dari sana pukul 18.00 sudah gelap, nafas sudah selalu diiringi uap, yang menandakan betapa dinginnya cuaca, dan benar waktu itu suhu hampir mendekati nol. Sarung tangan dan tutup kepalaku hanya sedikit menyembunyikan aku dari sergapan udara dingin.

Subhanallah, Allah maha kuasa.. betapa tidak, Ia dengan rapi nya menyiapkan alam ini. Di Negara ini aku benar-benar bisa merasakan bagaimana limpahan nikmat Allah yang diberikan pada negeri ku. Alam yang indah, sumber daya alam yang melimpah dan yang lebih penting sekarang, cuaca yang ramah. Semakin rindu saja aku dengan tempat asalku, apalagi jika sepi menyergap seperti ini. Bayangan tawa putri ku dengan tingkahnya semakin melayang-layang dalam ingatanku, dan biasanya istriku akan tertawa juga melihat kami bercanda.. Ya Allah, Engkau maha tahu segala sesuatu. Hamba rindu dengan mereka, hamba rindu memeluk mereka.. tapi hamba tahu Engkau sedang menguji aku. Apakah hamba akan menjadi orang yang lolos dengan ujian ini atau sebaliknya. Tentu hamba ingin lulus. Bukankah semakin tinggi pohon semakin keras terjangan anginnya. Hamba tidak boleh kalah ya Rabb, hamba tahu pengorbanan ini kelak akan Engkau balas. Hamba harus tetap tegar, bahkan harus lebih kokoh pijakan kaki hamba.. Demi Engkau yang mempunyai langit dan bumi, hamba mohon kuatkan hamba..

Goettingen, 30 Oktober 2008.

Laskar Pelangi Masa Kini

Semenjak dilaunching filmnya. Laskar Pelangi menjadi perhatian banyak masyarakat Indonesia. Betapa tidak kurang dari dua bulan saja, film tersebut mampu menyedot lebih dari setengah juta penonton. Laskar Pelangi awalnya merupakan novel yang ditulis oleh seorang pemuda tentang pengalaman hidup bersama kawan-kawannya masa sekolah dulu. Novelnya pun bak kacang goreng laris manis dibeli pembaca. Bahkan kemudian orang nakal pun ketiban untung dengan menjual versi bajakannya.

Laskar pelangi membawa pesan bahwa pendidikan adalah suatu hal yang sangat penting, dari masa dahulu hingga sekarang. Tentu semua orang mengamini bahwa pilar peradaban manusia akan dimulai dari proses belajar dan pendidikan menjadi hal yang tidak bisa dilepas darinya. Namun sayang, dimasa kini seolah-olah pendidikan masih terpinggirkan. Orang lebih suka sibuk dengan politik kekuasaan atau semisalnya. Memang kita tidak bisa lepas begitu saja dari politik dan semisalnya, namun politik menjadi kurang bergairah jika orang-orang nya masih berkubang dalam kebodohan karena terbatasnya pendidikan baginya. Laskar pelangi mencoba menyibak tabir itu. Bahwa dalam kondisi apapun pendidikan harus tetap berjalan dalam relnya.

Selain pesan semangat untuk berjuang dan belajar yang disampaikan dalam Laskar Pelangi, film itu seolah-olah juga ingin menyampaikan pesan kekinian. Ia ingin menampakkan wajah pendidikan Indonesia pada dunia nyata. Bagaimana susahnya menjangkau sarana pendidikan, bertahan dengan kondisi seadanya dan lainnya.

Semakin hari ramai Laskar Pelangi dibicarakan orang. Sudah tidak kurang dari puluhan kali produser, sutradara, sampai penulisnya menjadi bintang tamu untuk mengupas tentang film itu.

Mungkin bagi sebagian (kebanyakan) penonton terbayang bahwa pendidikan (sekolah) pada jaman Laskar pelangi sangatlah susah. Kondisi sekolah yang hampir roboh, guru yang terbatas, apalagi fasilitas. Namun siapa sangka, kondisi yang ditayangkan dalam laskar pelangi ada pada dunia nyata masa kini.

Adalah Pak Alis guru SD didaerah terpencil, ujung dari propinsi Riau tepatnya di kabupaten Indragiri Hilir. Beliau rela untuk berangkat mengajar dengan harus terlebih dahulu menyeberangi laut naik kapal menuju sekolah tempat beliau mengajar. Waktu yang diperlukan dari rumah sampai ke sekolah adalh 3 jam bahkan lebih, dan tidak setiap waktu ada kapal menuju kesana. Karena itulah kemudian beliau rela untuk tinggal di pulai terpencil itu dengan ditemani istri tercinta yang juga guru disekolah tersebut dan meninggalkan putra-putrinya. Seminggu sekali beliau pulang ke rumah untuk menengok rumah dan putra-putrinya. Begitu seterusnya setiap waktu.

Lalu bagaimana kondisi sekolahnya, jangan bayangkan sekolah SD yang megah seperti biasa kita temui di kota-kota besar dengan murid yang berpakaian rapi. Jangankan gedung yang megah. Kini sekolah tersebut sudah tidak dapat difungsikan lagi, karena sebagian atapnya sudah roboh. Jumlah seluruh muridnya dari kelas 1 sd kelas 6 juga tidak lebih dari 30 orang. Mereka kini belajar disebuah bangunan kosong milik warga setempat. Sementara kantornya adalah rumah kecil tempat Pak Alis dan Istrinya menginap. Pak Alis dan istrinya hanyalah 2 guru yang dimiliki sekolah tersebut. Mereka berdua harus mengajar dari kelas 1 sd 6 setiap hari. Entah bagaimana metode yang digunakan olehnya. Apakah tidak pernah ada guru lain datang ke situ? Pernah suatu saat ada guru bantu lainnya, tapi karena kondisi daerah yang terpencil membuatnya tidak betah dan memilih pindah. Namun tidak bagi pak Alis dan istrinya. Mereka rela berpisah dengan anak-anak, tinggal didaerah terpencil yang penduduknya pun masih jarang. Setiap hari mereka rela mengajar dan terus memompa semangat anak didiknya. Dengan berbagai keterbatasan mereka terus menularkan ilmunya pada murid-muridnya. Pak Alis tidak pernah mengeluh dengan kondisi itu. Sesekali pernah beliau laporkan kondisi sekolah tersebut kepada petugas terkait supaya ada perbaikan. Tetapi sepertinya sampai sekarang belum masuk prioritas kebijakan atasannya. Bahkan pak Alis malah ditawarkan untuk pindah saja ke kota sehingga bisa dekat dengan anak-anak dan tentu dengan kondisi sekolah yang lebih baik. Tawaran itu ditolaknya secara halus. Beliau memikirkan bagaimana jika sekolah itu ia tinggal, apakah ada guru yang mau tinggal seperti beliau nanti. Ah, lagi-lagi pak Alis rela mengalah demi anak didiknya.

Namun Allah Yang Maha Gagah tidak tinggal diam. Selalu ada balasan pada setiap perbuatan. Setidaknya itu dirasakan oleh keluarga pak Alis sekarang. Putra-putri beliau tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan mandiri. Putri pertamanya kini telah lulus sarjana dari perguruan tinggi negeri bergengsi di Bogor dengan biaya beasiswa semenjak SMA. Tidak ketinggalan dengan putra keduanya, kini ia tercatat sebagai mahasiswa kedokteran semester 5 juga dengan beasiswa. Begitu pula dengan kedua putrinya yang lain yang masih duduk di SMP dan SMA. Mungkin pak Alis dan keluarga tidak pernah menerima penghargaan sebagai pahlawan apalagi harta yang melimpah karena jasanya. Tapi Allah telah menunjukkan kekuasaanNya. Ia balas setiap pengorbanan yang telah dilakukan. Apalagi diakhirat nanti.

Dalam diri pak Alis tersimpan semangat yang luar biasa. Ia mungkin salah satu profil guru yang benar-benar menjadi ‘guru’ yang harus digugu dan ditiru begitu orang jawa bilang. Bahkan kini pak Alis juga telah menyelesaikan pendidikan sarjananya karena adanya tuntutan akreditasi guru oleh pemerintah. Subhanallah, bagi saya pak Alis dan keluarga dan mungkin guru-guru lainnya yang tersebar di negeri ini adalah Laskar Pelangi masa kini. Mereka akan tetap menampakkan keindahan warnanya seperti apapun kondisinya, meskipun orang lain tidak melihatnya… Seandainya para siswa, guru, politisi dan lainnya mempunyai jiwa yang serupa, pasti negeri ini akan semakin baik dimasa mendatang..

Ya Allah yang menguasai langit, bumi dan isinya. Balaslah semua jasa-jasa mereka dengan limpahan rahmatMu, berkahilah kehidupan mereka dan jadikanlah pada dada-dada kami tumbuh jiwa-jiwa seperti mereka. Aku tahu hanya Engkau yang akan terus mengalirkan pahala amal perbuatan mereka sampai akhir zaman, sebagaimana yang telah Engkau janjikan bahwa Ilmu yang bermanfaat akan tetap mengalirkan amal pahala. Amin.

Gottingen, 31 Oktober 2008

-special for Abah dan Mama.. jazakumallah khairan katsiran. Thank you very much for everything-